• 25

    Jun

    Dua Tetes Air Mata

    Dua Tetes Air Mata Alkisah Ahmad bin Miskin hidup dengan istri dan anaknya yang masih kecil.. Kesusahan menderanya terus menerus. Tak ada pekerjaan yang dilakukannya. Suatu Malam, setelah seharian tak secuilpun makanan masuk kedalam perutnya, hatinya gelisah dan tak dapat tidur. Hatinya perih seperti juga perutnya yang keroncongan. Seperti prajurit yang kalah perang, ia lesu, lemah lunglai, dan tak ada harapan. Anaknya menangis seharian, karena tak ada air susu dari istri yang lapar. Sungguh kefakiran ini membuatnya sangat menderita. Timbul pemikiran darinya untuk menjual rumah yang ditempatinya. Esoknya usai sholat subuh berjamaah dan berdoa, ia menemui sahabatnya Abdullah as sayyad, ” wahai Abdullah! bisakah kau pinjamkan aku beberapa dirham untuk keperluan hari ini. Aku bermaksu
  • 6

    Jan

    Break The Limit

    Break The Limit (Oleh: Heru Sadmiko) Beberapa hari yang lalu saya berkesempatan memberikan training di Bandung. Karena acara dimulai jam 13.00 maka saya berangkat dari Jakarta pukul 9.30. Ketika mulai memasuki tol ke arah Sadang, di belakang saya ada sebuah mobil Lexus berwarna hitam yang melaju dengan kecepatan tinggi. Tetapi yang saya suka walaupun ia melaju dengan kecepatan tinggi, ia tidak memaksakan kehendak. Jika mobil di depannya tidak mau memberi jalan, maka ia yang mengalah dengan mengambil jalan ke kiri dahulu baru kemudian balik lagi ke jalur kanan. Supaya tidak ngantuk karena saya menyetir sendirian dan tertarik dengan cara menyetir si mobil hitam ini, iseng-iseng saya membuntuti mobil tersebut dari belakang. Saya ikuti cara ia menyetir, termasuk kecepatannya. Ketika tidak ad
  • 6

    Jan

    Anak Katak Dan Hujan

    Ada kegundahan tersendiri yang dirasakan seekor anak katak ketika langit tiba-tiba gelap. “Bu, apa kita akan binasa. Kenapa langit tiba-tiba gelap?” ucap anak katak sambil merangkul erat lengan induknya. Sang ibu menyambut rangkulan itu dengan belaian lembut. “Anakku,” ucap sang induk kemudian. “Itu bukan pertanda kebinasaan kita. Justru, itu tanda baik.” jelas induk katak sambil terus membelai. Dan anak katak itu pun mulai tenang. Namun, ketenangan itu tak berlangsung lama. Tiba-tiba angin bertiup kencang. Daun dan tangkai kering yang berserakan mulai berterbangan. Pepohonan meliuk-liuk dipermainkan angin. Lagi-lagi, suatu pemandangan menakutkan buat si katak kecil. “Ibu, itu apa lagi? Apa itu yang kita tunggu-tunggu? ” tanya si anak katak s
Prev -

Author

Follow Me


Archive